Akhirnya…Bikin Kompos Sendiri (3)

Hari ini adalah waktunya saya memanen kompos saya. Saya membuat 2 ember kompos. Ternyata hanya 1 ember yang berhasil, tapi rasanya seneeeng banget… Berhasil! Berhasil! Hehe… norak ya…maklum namanya juga pemula… :)

Dalam ember pertama, kompos yang udah jadi tidak terlalu basah, kira-kira 70% kering dan sampah sayuran udah nggak keliatan lagi. Sedangkan di ember kedua, banyak mengeluarkan air lindi dan ternyata kompos didalamnya basah banget, mengeluarkan sedikit bau busuk. Mungkin ember kedua gagal karena saya memasukkan terlalu banyak sampah semangka. Atau karena saya pake pupuk daun. Soalnya ember pertama saya pake pupuk kandang. Atau saya kurang banyak menaburkan serbuk gergajinya… Sepertinya ada banyak faktor penyebabnya.

Berdasarkan pengalaman saya, kardus sebagai pembatas dan penutup jadi basah karena komposnya berkeringat (saya rasa masalah yang sama juga terjadi kalo pake metode Takakura, karena metode Takakura kan pake keranjang yang dilapisi kardus ). Mungkin solusinya saya akan mencoba mengganti kardus pembatas dan penutupnya dengan menggunakan sabut kelapa (minta aja ama warung penjual kelapa) atau sekam (mungkin boleh minta sama tukang tanaman) yang dibungkus dengan kain nilon (bisa beli di pasar). Masalah yang laen, kalo sampah terlalu basah (misalnya karena banyak kulit pisangnya…) taburi aja sama serbuk gergaji (bisa minta sama tukang kayu….).

Nah, silahkan teman-teman coba ya… Hasilnya kita diskusiin sama-sama, buat bahan evaluasi dan pembelajaran juga. Buat temen-temen yang udah jago bikin komposnya, kalo mau kasih masukan juga boleh… (boleh banget malah… )

Akhirnya…Bikin Kompos Sendiri (2)

Sebenarnya saya tertarik dengan metode Takakura. Tapi karena harus membeli keranjang seharga Rp.40.000 maka saya mencari metode lain soalnya saya takut percobaan pertama ini bakalan gagal. Kebetulan saya diundang untuk ikut pelatihan dari Tabloid Rumah. Mereka mengajarkan cara membuat kompos yang menurut saya lebih mudah, tapi nggak jauh beda juga dengan metode Takakura.

Caranya:

1. Sediakan wadah dari plastik berbentuk silinder dan yang harus ada tutupnya, tempat cat misalnya (kalau saya pakai ember KFC besar yang udah ada di dapur :p).

2. Lubangi bagian bawah wadah secara melingkar. Kemudian lubangi juga sisi ember secara melingkar secara merata. Membuat lubangnya bisa dengan bor. Kalau saya melubanginya dengan obeng panas. Tujuan wadah dilubangi untuk aerasi.

3. Potong kotak-kotak streoform (+ 3 cm). Taruh di wadah hingga sepertiganya. Streoform ini untuk aerasi.

4. Tutup dengan kardus (sebagai pembatas antara streoform dan kompos) yang dibentuk seperti wadah yang kita gunakan, dan di pinggirnya sudah dilubangi secara merata.

5. Masukkan kompos (sebaiknya kompos pupuk kandang) hingga sepertiganya dan tuang EM4. Kalo saya pake stardek berbentuk bubuk, soalnya emang udah ada di rumah. Beli stardek atau EM4 ini di toko pertanian.

6. Masukkan sampah sayuran yang sudah dicacah (sebenarnya banyak sampah dapur yang bisa dimasukkan tapi untuk pemula sampah sayuran saja dulu) yang usianya tidak lebih dari satu hari.

7. Tekan sedikit dan tutup lagi dengan kardus penutup yang sudah dibentuk sama dengan wadah, yang dipinggirnya sudah dilubangi merata.

8. Masukkan sampah sampai wadah penuh dan setiap hari harus diaduk di waktu yang sama.

9. Kalau sudah penuh diamkan tiga sampai empat hari, kemudian aduk lagi. Begitu seterusnya sampai sampah sayuran hancur dan menjadi kompos.

Sekarang sudah tiga minggu saya membuat kompos dan sepertinya kompos saya baik-baik saja. Maksudnya, kompos saya tidak bau dan tidak mengeluarkan air lindi. Dua hal itu memang yang paling saya takutkan dan yang paling dikhawatirkan sama orang-orang di rumah saya… :p

What do you think…

Temen-temen, ternyata tisu tidak bisa didaur ulang loh… Saya mau tanya nih…
Menurut temen-temen, misalnya tangan kita kotor abis makan gorengan, mendingan pake tisu terus dibuang dimana tisu itu tidak bisa didaur ulang atau cuci tangan pake air dan sabun, which is ngabisin air dan jadi ada limbah sabun yang juga sulit terurai?

Akhirnya…Bikin Kompos Sendiri (2)

Sebenarnya saya tertarik dengan metode Takakura. Tapi karena harus membeli keranjang seharga Rp.40.000 maka saya mencari metode lain. Kebetulan saya diundang untuk ikut pelatihan dari Tabloid Rumah. Mereka mengajarkan cara membuat kompos yang murah meriah dan metodenya nggak jauh beda dengan metode Takakura.
Caranya:
1. Sediakan wadah dari plastik berbentuk silinder dan yang harus ada
tutupnya, tempat cat misalnya (kalau saya pakai ember KFC besar
yang udah ada di dapur :p).
2. Lubangi bagian bawah wadah secara melingkar. Kemudian lubangi juga
sisi ember secara melingkar secara merata. Membuat lubangnya bisa
dengan bor. Kalau saya melubanginya dengan obeng panas. Tujuan
wadah dilubangi untuk aerasi.
3. Potong kotak-kotak streoform (+ 3 cm). Taruh di wadah hingga
sepertiganya. Streoform ini untuk aerasi.
4. Tutup dengan kardus (sebagai pembatas antara streoform dan
kompos) yang dibentuk seperti wadah yang kita gunakan, dan di
pinggirnya sudah dilubangi secara merata.
5. Masukkan kompos (sebaiknya kompos pupuk kandang) hingga
sepertiganya dan tuang EM4. Kalo saya pake stardek berbentuk
bubuk, soalnya emang udah ada di rumah. Beli stardek atau EM4 ini di
toko pertanian.
6. Masukkan sampah sayuran yang sudah dicacah (sebenarnya banyak
sampah dapur yang bisa dimasukkan tapi untuk pemula sampah
sayuran saja dulu) yang usianya tidak lebih dari satu hari.
7. Tekan sedikit dan tutup lagi dengan kardus penutup yang sudah
dibentuk sama dengan wadah, yang dipinggirnya sudah dilubangi
merata.
8. Masukkan sampah sampai wadah penuh dan setiap hari harus diaduk
di waktu yang sama.
9. Kalau sudah penuh diamkan tiga sampai empat hari, kemudian aduk
lagi. Begitu seterusnya sampai sampah sayuran hancur dan menjadi
kompos.

Kompos saya yang sekarang usianya sudah tiga minggu sepertinya keadaannya baik-baik saja. Maksudnya, kompos saya tidak bau dan tidak mengeluarkan air lindi. Dua hal itu memang yang paling saya takutkan dan yang paling dikhawatirkan sama orang-orang di rumah saya… :p

Akhirnya…Bikin Kompos Sendiri

Ternyata… untuk menjadi orang-orang dalam acara Kick Andy atau Oprah Winfrey Show nggak gampang. Perlu kesabaran dan tekad kuat.

Saya ingin melakukan sesuatu untuk lingkungan hidup dari skala paling kecil yaitu rumah. Dan akhirnya membuat kompos jawabannya. Sebenarnya saya sudah mendapat info tentang pembuatan kompos sejak tahun lalu, tapi saya selalu menunda untuk membuatnya dengan berbagai alasan. Rasanya kok malas sekali untuk memulai. Soalnya menurut saya proses pembuatan kompos ini ribet banget (salah satu alasan ga penting…). Pertama harus menentukan metode mana yang akan dipakai dan yang paling sesuai dengan kemampuan kita. Kedua harus mencari peralatan dan perlengkapan untuk membuat komposnya. Ketiga, harus mencacah sampah dapur, cape deh… apalagi kalo pisaunya tumpul, hehe… walhasil jari pada pegel. Secara teori membuat kompos memang sederhana, tapi coba deh lakukan sendiri… Tapi… untuk bumi yang lebih indah, kenapa nggak?! It’s worth to try… pokoknya i’ll do anything for the sake of mother nature…. taelaaa… :p

Dan akhirnya, Teman-teman, hari ini sudah tiga minggu saya melakukan proses pembuatan kompos sendiri. Yeee… horee….! Tapi saya belum tahu apakah kompos saya ini akan berhasil atau tidak.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menjadi inspirasi saya membuat kompos, saya banyak belajar dari blog yang kalian tulis. Maaf tidak saya cantumkan namanya, karena banyak banget dan saya sudah lupa.

Say No to Plastic Bag!

Saya baru tahu ternyata plastik itu baru bisa didaur ulang setelah seribu tahun. Yap, seribu tahun!! Terus kalau plastik itu dibakar, asapnya beracun dan kalau dibuang di sungai, bisa menyumbat saluran air dan akibat tidak langsungnya makhluk yang hidup di sungai bisa mati. Hmm… langsung aja saya berpikir, kita harus mengurangi penggunaan plastik! Jadilah saya ikut aliran ’No Plastic Bag’. Jadi setiap pergi atau niat belanja, saya selalu bawa tas plastik (dari singkong) dari rumah. Terus kalo belanjanya cuma satu atau dua item, biasanya dijinjing aja atau langsung masukin tas (jangan sampe ilang tanda pembayarannya ya, ntar disangka nyuri lagi…) Tapi ternyata emang susah yang namanya merubah kebiasaan. Emang sih udah bawa kantong sendiri, eh pas di kasir lupa bilang kalo gak mau pake plastik mereka… Setelah beberapa kali baru deh berhasil… O iya, temen-temen udah tahu belum kalo ada plastik dari singkong. Kreatif ya… Plastik singkong ini bisa terurai hanya dalam waktu 10 minggu. Bisa jadi alternatif buat kita-kita yang masih tergantung sama plastik.

 

Bantu selamatkan bumi dengan bawa tas sendiri saat berbelanja <em>(green festival)

What inspire me…

Teman-teman tahu kan acara Kick Andy dan Oprah Winfrey Show? Menurut saya kedua acara itu luar biasa sekali dalam hal menginspirasi orang untuk berbuat sesuatu. Sesuatu yang sederhana, sesuatu yang positif, sesuatu bagi orang lain. Dari kedua acara itu, ada dua hal yang membuat saya paling merasa tergugah, yaitu masalah lingkungan hidup dan pendidikan anak-anak tidak mampu.

 

Kenapa lingkungan hidup? Karena pada dasarnya saya sangat suka udara bersih dan hijaunya pepohonan dimana kedua hal itu mulai langka. Dari dulu, saya paling merasa sakit hati kalau melihat ada pohon yang ditebang (mirip Idefick, anjingnya Obelix ya… hehe… ). Saya juga langsung naik pitam kalau melihat orang membuang sampah keluar dari mobil bagus mereka atau melihat anak-anak sekolah membuang plastik siomaynya di jalanan. Dan saya paling benci dengan asap kendaraan dan asap rokok.

 

Kenapa pendidikan anak-anak tidak mampu?  Kita semua pasti menginginkan dunia yang lebih baik. Nah, tanpa pendidikan yang baik bagi anak-anak tidak mampu, mereka akan memiliki kecenderungan menjadi orang-orang yang tidak mempunyai tujuan hidup di saat dewasa nanti, mudah terpengaruh lingkungan dan tidak punya prinsip sehingga tidak bisa membedakan antara yang benar dan yang salah. Pendidikan yang baik bagi anak-anak kurang mampu akan membuka wawasan mereka, bahwa dunia ini tidak selebar daun kelor, bahwa mereka harus hidup lebih baik dari orang tua mereka, bahwa mereka harus punya cita-cita setinggi langit, dan lainnya.

 

Ada satu kalimat dari salah satu bintang tamu Oprah yang menginspirasi saya. Ia mengatakan (intinya aja ya…), ”Saya tidak ingin mati tanpa meninggalkan hal positif bagi generasi penerus saya, sekecil apa pun itu.”

 

Jadi, teman-teman, ayo kita sama-sama berbuat sesuatu bagi sesama dan bagi lingkungan kita. Walaupun itu hanya hal yang sepele, walaupun itu hanya membuang sampah di tempatnya, walaupun itu hanya mematikan lampu di ruang yang tidak terpakai di rumah kita, walalupun itu hanya sekedar memberikan senyuman kepada tetangga kita… :)

Do You Know?

Tahukah kamu…

Bahwa setiap harinya sampah kertas di seluruh dunia berasal dari 27 ribu batang kayu? (WWF)

Pada tahun 2005, Indonesia mengkonsumsi kertas sebanyak 5,6 juta ton. Untuk itu dibutuhkan sebanyak 22,4 juta meter kubik kayu yang diambil dari hutan alam. Atau sama dengan menebang hutan seluas 640 ribu hektar/hari.

Sementara kegiatan penebangan dan kebakaran hutan merupakan penyumbang emisi terbesar, yaitu sekitar 64% dari total emisi di Indonesia. Diantaranya diakibatkan oleh kegiatan pabrik kertas. (Kementrian Lingkungan Hidup)

So…

Hemat Kertas untuk Selamatkan Hutan dan Kurangi Emisi

Tips hemat kertas

  • Gunakan kertas bolak balik. Tindakan ini bisa menghemat penggunaan kertas hingga 50%
  • Kumpulkan kertas yang satu sisinya masih kosong. Pakai ulang kertas tersebut untuk mencetak dokumen atau buku catatan.
  • Kumpulkan kertas bekas yang telah digunakan kedua sisinya serta sampah kertas lainnya untuk didaur ulang (Kedai Daur Ulang Pak Salam Jl. Mampang Prapatan XI No.3A, Jak-Sel. Telp. (021) 7900742)

Boros Kertas supaya bahan bakunya cepat habis atau…

Hemat Kertas supaya bahan bakunya selalu tersedia

(Taken from Green Festival)

Green Festival

21 April 2008

Green Festival, Parkir Timur Senayan

Alhamdulillah akhirnya jadi juga pergi ke Green Festival. Walaupun baru bisa pergi sore, tapi tetep dibela-belain… pokoknya harus pergi. Sampai di Senayan udah magrib, hujan pula. Buat temen-temen yang tidak sempet pergi melihat Green Festival dan tidak sempet juga baca di koran atau menonton di tv, mungkin temen-temen bisa mendapat sedikit gambaran dari sini.

Green Festival pada dasarnya festival tentang lingkungan hidup. Kayaknya tujuan acara ini untuk menerangkan kepada masyarakat awam bahwa dari hal-hal sepele dan sederhana yang sehari-hari kita lakukan ternyata kita bisa ikut memberikan kontribusi besar bagi rusaknya lingkungan kita.

Tenda utama dalam festival berisi tentang eco living. Pertama memasuki tenda utama, kita disuguhi berbagai gejala pemanasan global seperti mencairnya es di kutub serta cuaca dan iklim yang tidak menentu. Kemudian bagian berikutnya adalah setting dibuat gersang (pohon2 meranggas), pendingin udara diganti dengan kipas angin sehingga udara terasa panas. Setelah itu kita dibawa ke bagian lain melalui lorong yang dihiasi semak2 hijau. Bagian berikutnya adalah setting rumah yang dibagi menjadi beberapa bagian: dapur, kamar tidur, ruang makan, ruang kerja. Di setiap bagian/sudut ruang diberi catatan kecil tentang hal apa saja yang bisa memberikan kontribusi bagi rusaknya lingkungan kita dari skala kecil yaitu rumah kita sendiri. Semuanya diterangkan secara singkat, padat, sederhana dan bisa membuat kita tertegun ternyata selama ini banyak kebiasaan yang kita lakukan ternyata berdampak besar pada lingkungan kita.

Untuk pamerannya, salah satu produk yang menarik adalah kantong plastik yang terbuat dari singkong. Kalau kantong plastik biasa baru bisa terurai dalam 1000 tahun, kantong plastik dari singkong ini terurai dalam waktu 10 minggu. Karena pemerintah kita belum terlalu concern sama masalah sampah plastik yang terus menumpuk, mungkin kantong plastik singkong ini bisa jadi alternatif sementara buat kita-kita yang masih tergantung pada plastik.

Secara keseluruhan festival ini keren banget, dan pengen rasanya ada festival serupa di kota-kota besar lainnya. Yah, supaya semakin banyak yang sadar dan peduli pada lingkungannya. O iya, tapi sayang, di pelataran luar festival, banyak banget sampah bertebaran. Sedih juga liatnya…